Sabtu, 27 April 2013

Tetap Seperti Ini



Anjas, pria gila yang aku temui dua hari yang lalu. Baiklah upakan. Dia tidak keberatan dengan panggilan itu. Bahkan dia seringkali tertawa jika kalimat itu terlontar dari mulutku.
Aku pikir mungkin dia satu-satunya pria tergila yang pernah aku temui. Namun, jika aku perlu mengatakan hal terjujur aku tertarik padanya sejak pertama kali dia mengajakku berbincang.
“Hai, apa kau tak tahu? Aku memperhatikanmu sejak tadi. Apa kau tak menyukaiku?” tanya seseorang tiba-tiba. Aku sadar akan keberadaannya disampingku sejak tadi. Aku juga tahu kalau dia seringkali melirik kearahku, namun kukira dia sedang melihat seseorang yang akan keluar dari ruang facial.
“Apa kau bodoh? Kau menanyakan ‘apa aku menyukaimu’ seperti kau sedang bertanya ‘sudah makan atau belum’.”
“Jadi maksudmu kau tak menyukaiku? Lihat aku! Aku tampan dan, menarik. Semua wanita tergila-gila padaku.”
“mungkin karena mereka wanita bodoh yang rela membuang-buang waktunya hanya untuk menggilaimu.” Ujarku tanpa menunggu jawaban darinya.
“Hai gadis! Jika sikapmu seperti ini tidak akan ada pria yang menyukaimu.” Ucapnya kemudian dengan lantang saat aku beranjak menjauh. Dasar tak tahu malu.
“Oya? Jika tidak akan ada yang menyukaiku lalu mengapa ada seorang pria yang mau meneriakiku dan mengatakan bahwa tidak akan ada yang menyukaiku. Apakah sebenarnya dia menyukaiku” jawabku puas sambil tetap diposisi berdiriku.
“Hei gadis lihat saja! Aku berjanji akan membuatmu mencintaiku dan menjadikanmu wanita bodoh seperti yang kau katakan!” teriaknya lagi, tak ingin kalah.
“Sunggih? Coba saja!” aku berlalu tanpa melihat kearahnya lagi. Tanpa sadar aku mengembangkan senyum dari kedua sudut bibirku.
Entahlah! Tak tahu makhluk apa yang baru saja aku jumpai. Dia seperti meteor yang bersinar dikejauhan namun tega menghamtam bumi dengan panasnya hingga meninggalkan bercak kasar.
“Hai kita bertemu lagi. Apa kau tidak berpikir bahwa kita ini jodoh.” Senyuman bodoh itu lagi-lagi membuatku muak. Rasanya ingin segera aku keluarkan sarapan yang baru setengah jam lalu aku masukan kedalam perutku.
“Jika pertemuan kebetulan itu menandakan jodoh, mungkin aku sudah menikah dengan guruku sejak lama.”
“Wow, kurasa itu sangat sadis.” Jawabannya sambil mengernyitkan keningnya. Baru saja kulangkahkan kakiku satu langkah, dia segera menghalangi jalanku.
“Kau tak ingin berbincang-bincang denganku?”
“Untuk apa? Membuat diriku tampak bodoh?” jawaban yang terlontar dari mulutku memang tak berperasaan. Aku segera memutarkan badanku untuk mencari jalan lain.
“Aku akan memastikan kau akan kembali mencariku.” Itu kalimat yang sangat kubenci. Ucapan itu membuatku lagi-lagi menghentikan langkahku. “Memangnya kau siapa? Sopir angkot?” ledekku. Akhirnya kepulanganku kali ini berhasil.
Kubantingkan tubuhku diatas kasur empuk setelah setengah jam aku melewati jalanan pengap penuh polusi knalpot yang pemiliknya tidak bertanggungjawab. Tak lama kudengar ponselku berdering menyanyikan lagu favoriteku. Aku terdiam sejenak saat melihat panggilan masuk diponselku mengingat nomor siapa yang mencoba untuk menghubungiku. Baiklah. Aku menyerah, aku tdak mengenal nomor ini. Aku biarkan pangilan itu terhenti tanpaku angkat.
Terdengar lagi. Baik. Mungkin ini penting.
“Dengan Shyra?”
“Ya benar, maaf dengan siapa ini?”
“Pria bodoh yang tampan dan menarik.”
“Kau.” Expresi kaget sekaligus bingung sangat nampak diwajahku. “Darimana kau dapatkan nomor ponselku?”
“Aku sudah pernah mengatakan bahwa aku bisa memastikan kau akan mencariku.”
Aku bisa menebak dia pasti sedang terseyum puas sambil menumpangkan kakinya.
“Punya kepentingan apa aku sampai harus mencarimu. Dasar bodoh!”
“Mungkin sekarang itu akan berubah.” Terdengar dia terkekeh, semakin benci aku mendengarnya.
“Darimana kau dapatkan nomorku?” kuulangi lagi pertanyaanku.
“Sepertinya seseorang menjatuhkan dompetnya, aku tidak tahu apa dia sengaja atau tidak.” Sontak aku kaget dengan penjelasannya, aku baru menyadari bahwa dompetku tak ada ditas.
“Dimana kau sekarang?” dengan geram aku menanyakan keberadaannya,
“Diujung ponselmu.” Lagi lagi dia terkekeh kegirangan.
“Aku bisa melaporkanmu kepolisi dengan tuduhan kau mencuri jika kau tidak memberitahu keberadaanmu. Aku tidak main-main.” Aku rasa kali ini dia tidak bisa dibawa besabar.
“Aku ada ditempat terakhir kita bertemu.” Oh ya ampun aku sungguh benci mendengar suaranya.
Segera kuputuskan panggilannya dan memutuskan untuk segera menyelesaikan urusan ini. Kecerobohanku. Ya, aku tahu. Sudahlah tak perlu dibahas.
“Alya, apa kau bisa membantuku? Aku sangat membutuhkanmu saat ini. Tolong temui aku dihalte 15.” Begitulah voicenote yang aku kirimkan kepada Alya sahabatku. Aku yakin dia pasti bisa menyelesaikan persoalan ini.
Tak berselang lama saat aku mengirimkan voicenote itu Alya sudah ada dihadapanku. “Aku butuh bantuanmu. Aku tidak mungkin menghampirinya. Kau mau ‘kan? Aku mohon!”
“Kau memang sangat menyusahkan. Bagaimana mungkin barang sepenting itu kau jatuhkan.” Gerutu Alya, dia memang selalu seperti ini jika kumintai bantuan. Namun semuanya selalu dilakukannya. Sudahlah tak perlu kupermasalahkan.
“Dimana aku bisa menemui pria itu?” Oh rasanya itu selalu menjadi kata-kata paling indah yang aku dengar. “Dia ada didalam sana, aku yakin dia pasti sedang menungguku.” Tak menunggu ba-bi-bu lagi, alya bergegas pergi meninggalkan Shyra diluar halte.
Sesampainya dihalte Alya celingukan mencari sosok pria yang tadi Shyra ceritakan. Pria bertubuh tinggi, bermuka mesum dan akan tampak begitu menyebalkan. Huh, bagaimana tidak dia mengatakan hal itu, dia ‘kan membencinya. Mungkin saja pria itu benar kalau dia itu tampan dan sangat menarik. Baiklah, lupakan. Alya mengerti seperti apa sahabatnya, dia selalu menceracau jika sedang tak suka dengan oranglain.
“Alya” panggilan itu memang sangat mengagetkan, membuyarkan konsentrasi Alya yang sedang fokus mencari sosok pria itu. “Sedang apa kau disini?” Alya sedikit mengernyitkan dahinya mengingat siapa orang yang sedang mengajaknya berbincang. “Anjas!” serunya setelah ingatannya pulih, maklum mereka tidak bertemu sudah sekitar 2 tahun lalu, dan anjas memang banyak mengalami perubahan. Ya, dia tampak begitu memesona. “Aku sedang mencari seseorang, kau sendiri?” Lanjutku menjawab pertanyaan Anjas yang tertunda karena memulihkan ingatan tadi. “Aku juga sedang menunggu seseorang.” “Perempuan mana lagi yang sedang kau tunggu?” ledekku. Aku tahu jelas seperti apa Anjas, dia memang playboy. “Hei, saring kata-katamu itu, kali ini aku menunggu perempuan baik-baik.” Jawabnya sambil tertawa kegirangan seakan mengerti maksud dari pertanyaanku. “Kau sedang mencari siapa? Apa teman kencan butamu?” bibirnya menyeringai tanda berbalik meledekku. “Tentu saja tidak. Aku sedang mencari seorang pria yang menemukan dompet milik temanku, tadi dia menjatuhkannya.” “Shyra!” aku memiringkan kepalaku sambil melihat wajahnya. “Kau mengenalnya?” aku segera teringat, lalu melihat tangannya. Tentu saja dia sedang menggenggam dompet milik Shyra. “Kau memang benar-benar menyebalkan. Kembalikan dompet itu.” Aku memaksanya. Namun dia malah menyembunyikan tangannya. “Ayolah Alya, sebenarnya kau akan membuat semuanya begitu mudah.” Dia memohon. Sama persis ketika dia memintaku untuk dijodohkan pada Maya anak pemilik yayasan yang begitu populer. “Tidak! Kembalikan dompet itu.” “Alya.” “Anjas, jika  aku bilang tidak ya tidak. Kau mengerti? Shyra sudah memiliki kekasih, kalaupun tidak aku tidak akan mengumpankannya kepadamu. Dia perempuan baik-baik. Kau dengar itu?!” aku segera merampas dompet Shyra yang sejak tadi digenggamnya. Anjas selalu saja seperti itu.
*****
“Kau mendapatkannya?” tatapku pada Alya, namun dia tak segera memberikan jawaban. Mukanya ditekuk dalam-dalam seakan-akan ada selalu yang mengganggunya. “Alya, apa kau baik-baik saja?”
“Aku mendapatkannya, aku baik-baik saja kau tak perlu khawatir.” Alya tersenyum, dia memang selalu pandai menyembunyikan perasaannya. Sudahlah, mungkin dia sedikit lelah.
“Aku akan mentraktirmu, kau mau?” Alya hanya mengangguk tanda menyetujui ajakanku. Aku mencoba tersenyum walau pada dasarnya aku bingung dengan sikap Alya.
“Aku minta kau tidak mendekati pria itu.” Ucap Alya tiba-tiba, setelah kami tiba disebuah restoran. “Apa sejak tadi kau memikirkan hal ini? Memikirkanku?” Aku tersenyum lagi, pada dasarnya aku memang harus berhati-hati tapi aku senang Alya perhatian padaku. Dia memang selalu bisa diandalkan. “Kau tenang saja, aku sudah bisa menebak seperti apa porsi pria seperti dia. Tapi terimakasih banyak kau sudah peduli padaku” “Hei, apa maksudmu?” “Maksudku kau memang selalu peduli.” Aku menyeringai manja padanya.
*****
Aku tak tahu ini dikategorikan hal apa. Yang jelas aku pikir ini kecerobohan. Anjas, pria yang namanya baru belakangan ini aku tahu dia terus menghubungiku. Meski pada awalnya dia banyak berbual. Entahlah, aku merasa tertarik padanya. Padahal Alya sudah memperingatkanku, aku aku juga sudah tahu pria seperti apa Anjas ini. Tapi, ..... Sudalah mungkin kali ini aku tidak bisa lagi mengelak. Apa yang harus aku lakukan agar rasa ini bisa pupus kembali. Aku tak keberatan jika harus kembali membencinya. Apa juga yang harus aku lakukan terhadap Ryan, pria yang telah 2tahun menemaniku. Aku tahu, kami long distance. Tapi apa harus aku melakukan hal ini terhadap Ryan. Perempuan macam apa aku ini. Ya Tuhan, tolong aku.
Dan yang baru aku ketahui bahwa Anjas tak seperti apa yang aku judge dulu. Dia menyenangkan, perhatian terlebih dia selalu ada untukku jika dibandingkan dengan Ryan. Bagaimana tidak? Ryan memang jauh, bagaimana mungkin dia akan selalu ada untukku. Tapi pantaskah? Salahkah perasaan ini?
*****
Semuanya terjadi begitu saja. Begitupun perasaan ini. Aku tahu Anjas menyukaiku dia berulang kali mengatakan itu. Aku sudah menjelaskan kepadanya bahwa aku memiliki Ryan tapi yang dia katakan “Dia ‘kan jauh, manamungkin dia tahu?” masih terdengar bagaimana saat dia mengatakan itu sambil terkekeh namun matanya mmancarkan keputusasaan.
Salahku, aku juga sudah mengatakan padanya bahwa aku juga menyukainya. Namun, aku rasa hubungan ini hanya akan sebatas ini. Aku tegaskan, aku menyukainya. Baiklah, aku juga mungkin sudah mulai mencintainya. Aku suka cara dia memperlakukanku bagai putri. Menjemput dan mengantarkanku kuliah. Aku suka dia yang selalu ada untukku, padahal sebenarnya dia juga memiliki kesibukannya sendiri. Aku juga suka dia yang dewasa. Mungkin Anjas playboy, aku tahu. Sama seperti saat Alya menceritakannya tentang Anjas padaku. Namun saat bersamaku, aku tak merasakan hal itu. Apa ini yang dinamakan cinta buta? Atau mungkin aku yang terlalu menutup mata. Ryan, maafkan aku. Hanya kalimat itu yang selalu aku ucapkan dalam hatiku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar