Senin, 22 April 2013

Aku Ingin Masuk Negeri



“Aku bukan orang miskin ! Tuhan Cuma ‘gak kasih aku rezeki yang banyak saja.” “Dasar bodoh ! sama saja, berarti kamu miskin.” Mereka selalu menertawakanku, mengejek keadaanku. memang dunia saat ini hanya untuk orang kaya ‘yah? . jika benar demikian, betapa tak adilnya dunia ini untukku.
Didunia ini kita memang tak ditakdirkan menjadi orang yang memiliki kekayaan yang berlimpah, selain itu ayah ibuku diutus oleh Tuhan untuk penitipan amanat yang aku pikir berlebihan.
Aku anak ke-9 dari sembilan bersaudara. Hanya tinggal menambah 2 lagi kami sudah bisa menjadi tim sepak bola.
Kakakku yang pertama bernama Aditya Pratama, kakakku yang satu ini sangat bijak. Dia selalu menjadi penengah diantara semua masalah yang selalu terjadi diantara kita. Dia sudah memiliki 2 anak, laki-laki dan perempuan. Dengan pendidikan lulusan S1 teknologi tak sulit baginya untuk memiliki pekerjaan. Sehingga terkadang beban ayah selalu dia ringankan. Hebat.
Kakakku yang kedua bernama Beni Anggara, dia sangat sopan sekali. Dia begitu lembut sehingga para ibu-ibu begitu menyukainya. Malah sempat ada seorang ibu yang datang kerumah untuk melamar kak Beni untuk anaknya. Hihihi. Konyol. Tapi sekarang dia sudah menikah dengan seorang gadis yang sangat dia cintai. Sebentar lagi juga punya adik bayi.
Cici Ana Maya kakakku yang ketiga. Dia begitu cerewet, dia selalu menceramahi semua yang kita lakukan. Sampai-sampai, kekasih yang sering dibawa kami kerumah selalu tak lepas dari omelannya. Kak cici ditinggal meninggal oleh suaminya 2 tahun lalu. Dia begitu terpukul. Ayah sudah menyarankan untuk cepat mencari penggantinya, hanya saja kak cici mengatakan dia belum memiliki pengganti untuk menggantikan posisi suaminya. Kasihan.
Yang keempat Desi Setiawati. Kakakku yang satu ini Religius. Dia yang sering mengajariku ilmu-ilmu agama. Dia senang sekali membaca sehingga aku sering sekali menceritakan pengetahuan yang dia dapat.
Kakakku yang satu ini TOMBOY, dia bernama Eva Nisrina. Penampilannya layak seorang laki-laki bedanya hanya saja dia memiliki rambut yang panjang. Setiap sore dia sudah mangkal di pos ronda menunggu teman-teman lelakinya plus penampilan ala preman dengan celana robek dibagian lututnya. Ayah, ibu juga kak Desi selalu memperingatinya. Memang menurut , hanya Cuma berlaku untuk satu hari saja. Dia bilang “Aku tomboy  ayah ibu tak suka, kalau aku berjilbab teman-teman selalu menertawaiku” ujarnya dengan muka tertunduk dan mengkerut. Lucu sekali.
Kakakku yang satu ini ganteng sekali. Kalau aku bukan adiknya aku juga menyukainya. Namanya Farel Ferdinan. Selain wajahnya yang tampan dia juga type setia. Wah, lelaki idaman.
Lain kak Farel lain kak Ginanjar. Kalau dilihat dari ketampanan jelas baik kak Farel. Namun entah mengapa para wanita lebih tertarik kepada kak Anjar. Hal ini membuatnya menjadi sering bergunta-ganti perempuan. Aku hampir pusing memikirkan siapa pacar yang sesungguhnya. Setiap ditanya siapa, dia selalu menjawab “hanya teman”. Ko’ temannya perempuan semua?. Namun ini menguntungkanku, aku menjadi sering berjalan-jalan dan ditraktir oleh perempuan yang dia bilang “hanya teman”.
Kakakku yang terakhir ini sangat nakal, namanya Hasan Permana. Ibu sering sekali menjewer kupingnya. Dia juga tak jarang menjailiku. Saat itu pernah dia menempelkan kunyahan permen karet dirambutku, sampai-sampai ibu harus menggunting sebagian rambutku. Aku kesal sekali. Namun pernah juga ketika aku dipalak oleh anak-anak nakal disekolah, dia menolongku. Sampai-sampai mukanya bonyok. Aku jadi terharu.
Namaku sendiri adalah Indah Azkya Putri. Putri bontot dari pasangan Bapak Andi Permana dan Ibu Lina Nurani. Aku masih menduduki bangku SMP kelas VIII. Aku bukan sekolah disekolah favorit, karena aku tahu biayanya begitu besar. Aku mengerti akan keadaan kami. Aku juga tak berhak memaksakan apa yang aku inginkan. Ayah selalu bilang “sekolah didekat rumah biaya tidak akan terlalu mencekik”. Apa boleh buat, lagipula aku merasa begitu kasihan kepada ayah dan ibu. Akupun tak jarang membantu mereka menjajakan dagangan ke setiap rumah, untuk mencari keuntung satu peser dua peser. Aku tak menyalahkan mereka dengan semua keterbatasan materi yang kami alami. Sejauh ini tak pernah ada anak ayah dan ibu yang mengeluh. Mereka menikmatinya. Malah kakakku yang pertama mendapatkan beasiswa untuk prestasinya.
Sebentar lagi kenaikan kelas. Teman-temanku sudah mulai memfokuskan pikirannya kepada pelajaran. Mereka sudah berisik menentukan sekolah mana yang akan mereka masuki ditingkat SMA nanti. Aku. Aku memang memiliki impian tentang ini. Aku ingin masuk sekolah negeri, yang ada dipusat perkotaan itu. Tetanggaku ada yang masuk sekolah itu. Kakak baik hati yang tampan, dia begitu ramah. Aku sering menanyakan tentang sekolahnya, prestasi-prestasinya, belum lagi fasilitas yang ada. Benar-benar sekolah impian. Aku ingin memasukinya.
Namun secepat itu pula aku terbangun dari semua mimpi-mimpiku yang konyol. Aku sadar betul siapa aku.
*****
Aku naik kelas. Aku senang sekali. Memang tak mendapat nilai yang lebih, namun hanya PAS. Kak hasan selalu mengejek “masa nilainya hanya rata-rata terus. Setiap tahun tak ada kemajuan dengan otakmu.” Aku tak memperdulikannya. Karena memang kenyataannya memang seperti itu. Biarkan tangan ajaib ibu saja yang bicara. Hihihi.
Suatu hari pelajaran BP. Palajaran ini selalu mengkait dengan perasaan. Minggu ini pelajaran untuk menentukan pilihan sekolah mana yang ingin dimasuki dan jurusan apa yang akan diambil. Sampai setengah pelajaran berlangsung, pulpenku hanya bergerak-gerak tak jelas. Kertas yang ada dihadapanku masih bersih, aku tak tahu harus menuliskan apa. “Kok’ kertasnya masih kosong” tanya Bu Mina tiba-tiba, membuyarkan semua lamunanku. Aku meliriknya sejenak. Masih tetap dengan posisi semula, menopang dagu dan mengetuk-ngetukkan pulpenku ke atas meja. Aku tak mungkin menuliskan bahwa aku tak punya keinginan untuk memasuki sekolah SMA, kalaupun ada bagaimana mungkin aku bisa merealisasikannya. Aku tak bergeming sedikitpun dari lamunanku. Sampai aku menyadari bahwa semua mata menatapku karena aku malah membiarkan Bu Mina mematung disampingku sambil menunggu jawaban dari mulutku. “Ketika jam istirahat bisa ‘kan temui ibu diruangan ibu!” Sampai Bu Mina berlalupun aku masih belum menuliskan satu katapun dikertas yang Bu Mina beri tadi. Huuhh. Aku semakin bingung saja. Apa aku akan dimarahi karena aku mengacuhkannya tadi?. Ya sudahlah aku tak peduli.
*****
Sampai waktu istirahat tiba. Aku menuruti keinginan Bu Mina tadi untuk menghadapnya. Aku duduk, dan aku merasa sedikit heran dengan tatapannya. Kami saling tak bicara “Apa kamu ada masalah?” Tanyanya memecah keheningan. “Masalah? Banyak. Bukankah hidup memang konflik.” Jawabku dengan santainya. “Baiklah. Bagaimana dengan masalah yang tadi kita bicarakan didalam kelas?” aku kembali terdiam. Aku kira pelajaran ini hanya 2 jam dalam 1minggu, tapi ternyata untuk minggu ini aku mendapat tambahan. “Apa memang masalah yang sangat besar?” tanyanya lagi. Aku kembali menatapnya, sambil mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang memang sejak tadi bergulat dalam pikiranku, namun bagaimana mungkin aku mengatakan yang sebenarnya. “Aku ingin masuk negeri.” Dia sedikit mengkerutkan dahi, tanda tak mengerti apa yang aku katakan. “Aku ingin masuk sekolah negeri. Tapi bagaimana mungkin. Aku tak pintar. Dan aku bukan orang kaya. Kalaupun mungkin aku bisa bekerja, pekerjaan apa yang mau mengupahku dengan gaji 1.000.000.000 per bulan untuk memenuhi biaya sekolahku diusiaku yang masih sekecil ini.” Tuturku panjang lebar. Namun Bu Mina hanya tersenyum, sambil mengacak-ngacak rambut kuncir kudaku. “Tak ada batasan seseorang untuk bermimpi sayang. Bahkan semua orang harus memiliki satu saja minimal mimpi yang harus menjadi target pencapaiannya. Mimpi itu harus terus dipupuk agar ia tetap tumbuh dan akan menghasilkan bunga yang indah.” Aku menggaruk kepalaku, tanda aku tak memahami apa yang dia ucapkan “maksudnya apa?” “Kamu punya mimpi. Mimpimu adalah acuan untuk kamu terus berlari. Kamu harus bisa mencapai semua mimpi itu. Tuhan tak tidur, DIA mengerti apa yang kamu butuhkan sayang.” “Caranya bagaimana? Apakah aku harus bekerja mati-matian seperti ayah?” “Tugasmu disini hanya belajar dan melakukan hal yang terbaik. Soal materi biar Tuhan yang beri jalan. Tak ada yang mustahil didunia ini jika seseorang mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Apa kau mengerti?” Bu Mina kembali tersenyum padaku . “Ya. Aku mengerti.” Aku memang mengerti kali ini. Aku mengerti apa yang harus aku lakukan demi mewujudkan semua mimpiku. “Soal tugas yang tadi. Boleh aku meminta kertas dan pulpen?” Bu Mina mengengguk kecil.
“Aku ingin masuk sekolah negeri SMA 1 Tunas Bangsa. Alasannya karena aku ingin mewujudkan semua impianku. Menjadi manusia yang bisa dihargai. Sukses dengan hasil keringatku sendiri. Terlebih membuat ayah ibu juga kakak-kakakku bangga padaku.”
Aku pergi kembali kekelasku, dengan sebuah pencerahan yang Bu Mina alirkan keotakku. Aku berjanji akan belajar dengan sungguh-sungguh supaya aku bisa meneruskan sekolahku. Walau itu hanya sebatas beasiswa. Aku akan merasa bangga sekali ketika seseorang menyebutku dengan kalimat “Dia (indah) dari keluarga sederhana namun pintar sehingga dia mampu menjadi orang yang sukses.”

Salam Semangat.

Deria Triana Fauzia “Fafaw”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar