Sabtu, 20 April 2013

Tentang Kita

Ini bukan tentang keegoisan
Bukan tentang waktu yang semakin memeluk hati dengan erat
Bukan tentang aku yang membiarkanmu masuk dalam kehidupanku
Bukan tentang kau yang sengaja menyimpan jantungmu menjadi bagian dalam tubuhku
Bukan tentang sebab atau akibat dari apa yang kita lakukan
Bukan tentang jarak yang membuat kita jauh
Bukan tentang kerinduan yang kian hari semakin menyesakkan dada
Bukan tentang airmata yang terpaksa jatuh
Bukan tentang keikhlasan yang memang harus kita hadapi
Bukan tentang rasa sepi yang datang saat malam tiba
Bukan tentang perbedaan yang harus kita seimbangkan
Bukan tentang pendapat yang harus selalu dipertahankan
Ini semua tentang kita.
Kita yang membiarkan rasa itu tumbuh dan berbunga bahkan begitu subur.


"Selamat pagi mentari" Aku menggeliat nikmat.
Itu yang selalu kuucapkan saat semburat cahaya itu seringkali
menyilaukan mataku. Sambil sedikit mengucek mataku aku kibas gordyn
kamar yang masih meninggalkan jejak bintang yang memenuhi ruangan ini.
"Kau cantik sekali hari ini, aku bukan merayumu tapi ini kenyataan
semua orang juga pasti akan mengatakan ini. Oya tadi malam bintang
bilang hari ini kau tak boleh bersedih, karena nanti malam dia akan
datang lagi." Ini memang sudah menjadi ritual wajib yang selalu aku
lakukan setiap pagi. Menyapa kawan setiaku. Kurasa itu baik.
"Aulita cepat bangun, ini sudah siang. Kamu bisa terlambat kesekolah,
jakarta macet apa kamu lupa?" Terdengar suara itu lagi dari luar
kamar, suara keras namun selalu terdengar meneduhkan bagiku. Sudah
ketiga kalinya Ibu meneriakkan kalimat itu. "Iya bu, Lita sudah
bangun." Oh ya ampun, malas sekali rasanya aku sekolah. Kenapa aku
benci sekali aktifitas ini. Mentari mengapa kau tak menjelma menjadi
manusia saat pagi dan menemaniku sekolah agar aku tak merasa kesepian,
mengapa kau hanya bisa menatapku jauh. Dengan manja aku bergegas
bangun dari tempat tidurku lalu menyambar handukku untuk segera mandi.

"Aku tak mau diantar kesekolah." Tegasku saat tiba dimeja makan
memenuhi perintah ibu untuk sarapan. "Lalu kamu mau kesekolah naik
apa?" Dengan malas ibu menjawab penuturanku. "Aku bisa naik bis atau
mentromini (sambil menerawang) kopaja mungkin, angkot juga tak apa."
Ujarku dengan yakin tanpa pernah tahu Ayah menatapku sejak tadi.
"Kapan kamu bisa mengerti Ibu?" Tanyanya resah. "Kapan? Aku selalu
mengerti Ibu." "Kalau kamu pergi naik metromini kapan sampai
disekolah? Ini sudah siang, kamu bisa telat." Tangkis Ayah kemudian.
"Ayah..." Keluhku manja. "Makanya kalau mau naik angkutan umum bangun
pagi coba." "Sungguh Ayah" jawabku terkaget. "Ayah tidak janji"
"Ayah..." "Baiklah" Aku dengan gembira segera memeluk Ayah rasanya ini
seperti kejutan. "Terimakasih Ayah, Assalamu'alaikun Ibu Lita pergi
yah" aku sedikit berlari setelah mencium tangan keduanya. "Kamu belum
sarapan Lita" "Sudah ko Lita bawa satu potong roti, dah Ibu" teriakku
dari jauh.

Setiba disekolah, lemas sekali rasanya kakiku untuk melangkah melewati
gerbang itu. Neraka macam apa yang ada didunia seindah ini? Mentari
apa kau akan tetap membiarkanku sendiri.

"Awas awas"
"Ahhh..."
Sesosok pria segera turun dari sepedanya dan segera menghampiriku yang
meringis kesakitan.
"Maaf" dengan raut wajah penuh penyesalan dia membantu aku berdiri.
"Aku tidak apa-apa" tukasku agar sedikit membuatnya tenang dan tidak
merasa bersalah.
"Apa lututmu terluka?" Pria ini tetap dengan ekspresi cemas yang sejak
tadi tak lepas memandangku. "Sepertinya tidak" aku membiarkan tubuhku
bangkit sejujurnya aku jadi berbalik merasa bersalah karena sudah
membuatnya khawatir. "Sekali lagi aku minta maaf, kecelakaan barusan
memang kecerobohanku sepeda lamaku ini memang harus segera diperbaiki
karena sudah banyak yang rusak. Termasuk remnya." Paparnya dengan
mencoba tersenyum kepadaku sambil terus mengusap-usap sepeda tuanya.
"Sepertinya aku harus cepat-cepat masuk karena harus segera menemui
kepala sekolah." Pria itu cepat menghilang dari pandanganku. Tapi,
siapa dia? Aku baru melihatnya. Apa dia murid baru? Atau aku yang
terlalu menutup diri dan asyik dengan kehidupanku saja.

Kembali kuayunkan langkahku menuju kelas dimana semua kembali terasa
beku, memasuki tempat itu serasa berada diplanet yang jauh dari
mentari. Beku, dingin, dan tak ada kehidupan. Aku kembali sendiri.

Seusai pelajaran fisika aku bergegas menuju perpustakaan, salah satu
tempat favorit yang selalu aku kunjungi. Aku tak tertarik untuk pergi
kekantin untuk sedikit membeli cemilan atau sekedar duduk-duduk
diberanda berbaur dengan teman sebayaku yang lain. Itu tak mungkin,
karena... Sudahlah aku tak mau terlalu berlarut-larut dalam masalah
sulit ini. Kupikir.
Kuambil novel dari susunan buku-buku pada rak yang tersusun rapi,
untuk melanjutkan membaca novel kemarin yang belum sempat aku
selesaikan. Kadang terpikir, andai saja hidup ini seperti dalam film
'Inkheart' semua yang kubacakan bisa menjadi kenyataan, mungkin aku
takakan pernah merasa kesepian. Pemikiran yang konyol. Segera kugeser
kursi dan dengan cepat tenggelam dalam duniaku.

"Hai !" Suara tiba-tiba itu membuatku terkejut seperti memaksaku
kembali dari dunia imajinasiku ke dunia nyata.
"Kamu perempuan yang tertabrak tadi 'kan?" Pria ini lagi. Tak kusangka
dia masih mengenaliku, yang lain mana pernah peduli.
Aku mengembangkan senyum dan berusaha ramah untuk menyambut kedatangannya.
"Piko bilang, kamu anak pemilik yayasan ini 'yah?" Dia dengan ringan
menanyakan hal itu, dia tak pernah tahu tragisnya sebutan itu bagiku.
Kenapa harus dengan kalimat itu untuk memulai pembicaraan. "Iya, tapi
sebenarnya aku masih manusia biasa." Jawabku dengan malas. Dia malah
terkekeh mendengar jawabanku, "memangnya siapa yang menyebutmu hantu
atau malaikat?" Tangkisnya kemudian sambil tetap tertawa. "Sebetulnya
memang tak ada." Balasku lalu membenarkan kembali posisi dudukku,
ekspresi kecewaku tampak nyata. "Baiklah, aku Gio aku murid baru
disekolah ini. " Uluran tangannya segera aku sambut dengan senyum yang
lagi lagi mengembang setiap melihatnya menatapku. Kenapa tak sejak
tadi kau sebutkan namamu dan tidak memulai perbincangan dengan
mengatakan aku anak pemilik yayasan. Belum juga aku membalas
menyebutkan namaku dia langsung mendahului "dan aku tahu namamu
Aulita. " Senyuman itu kembali kulihat. "Kau suka membaca?" Tanyanya
mencoba mengorek tentang diriku, "sebenarnya tidak terlalu, aku lebih
suka menulis" "Aku juga suka menulis. Mencorat-coret sih lebih
tepatnya." Kami berdua kembali tersenyum dan larut dalam perbincangan
ringan kami.

Tak terasa jam bubar sekolah tiba. Jika bagi banyak anak ini adalah
moment yang ditunggu-tunggu, bagiku juga. Karena dengan demikian aku
akan segera keluar dari planet terpencil ini.
"Hai mentari, terimakasih. " Dengan refleks kuucapkan kalimat itu
sambil menengadahkan wajahku kelangit. 'Untuk apa?' " Untuk apa?
Entahlah, aku pikir hari ini aku bahagia. " Senyum manis segera
menyipitkan kedua mataku. Aku bergegas menghampiri sopirku yang sejak
tadi menunggu.
***
Akhirnya, hari ini aku bisa sedikit bermalas-malasan. Weekend itu
benar-benar hari terindah dalam hidupku. Kubantingkan kembali tubuhku
pada kasur empuk yang sudah beberapa tahun belakangan ini menemani
hariku. Sholat subuh tadi aku tidak ikut berjamaah dengan ayah ibu
karena aku sedikit terlambat, sehingga ketika aku akan memejamkan
kembali mataku sudah mulai terlihat sahabat setiaku akan bersinar.
"Selamat pagi mentari, aku tidur lagi ya', siang nanti mungkin aku
akan menemuimu" ujarku dengan mata mulai terpejam.

"Lita, kamu pasti mau tidur lagi." Sayup-sayup kudengar suara Ibu
begitu jauh. "Ini hari minggu nak, apa kamu lupa? " Teriaknya lagi.
Ibu ini berguyon apa? Aku tahu ini hari minggu mana mungkin aku bisa
lupa. "Kamu bilang hari ini mau belajar, besok kan ulangan kimia." Ini
hari minggu bisa kita lupakan dulu soal kimia?! "Apa, kimia?" Aku
langsung terperanjat, ya ampun bagaimana aku bisa lupa. Untung aku
memasang alarm jauh-jauh hari. Terimakasih Ibu. Secepat mungkin aku
sambit handuk yang menggantung untuk kemudian bergegas mandi.

"Mau kemana kamu, bukannya mau belajar" kuhampiri ibu dengan wajah
cengengesan. "Lita ke taman yah, Lita tidak konsen belajar dirumah
yang ada nanti malah tidur lagi, boleh kan Bu?" Ibu tetap tak
menghiraukan permintaanku. "Diantarkan Pak Asep yah?" Timpahnya
kemudian. "Aku sudah besar Ibu, aku tak mau diantar-antar Pak Asep
lagi. Lagipula ini hanya ke taman kalau belajarnya ditunggu aku malah
tidak fokus nantinya" "Ada saja alasannya anak ini" "Boleh kan yah."
Ucapku kemudian mencari pertolongan pada Ayah yang sejak tadi sibuk
dengan sandwich ditangannya. "Tentu saja boleh nak." Dengan tanpa
pikir panjang Ayah mengizinkanku pergi. "Ayah ini selalu saja seperti
itu." Aku tersenyum puas sambil memandang Ibu "Baiklah, tidak boleh
pulang lewat dari waktu maghrib!" Tak kuhiraukan lagi saran-saran Ibu,
aku langsung segera berlari untuk pergi.

"Hai mentari, senang bisa menemuimu disini. Aku harus belajar
mentari." Ucapku sambil sibuk membuka halaman demi halaman. "Oya kau
bisa membantuku 'kan, kau hafalkan apa yang aku katakan nanti jika aku
membutuhkanmu kau beritahu aku yah."
"Selamat pagi Mentari." Lagi lagi aku dikagetkan oleh suara ini. "Gio"
sapaku dengan terkaget. "Ini sudah siang, mentari sudah meninggi sejak
pukul 06.00 tadi pagi." Tuturku kemudian. "Oya, dirumahku hujan jadi
aku baru bertemu Mentari disini." Senyumannya segera menyipitkan kedua
matanya. "Gio, lagipula mentari itu ada diatas kita mengapa kau
mengucapkannya sambil melihat kearahku." Sambil sedikit risih dengan
tatapannya yang tak lepas memandang bola mataku. "Dari jauh sana aku
melihat ada cahaya, aku pikir mentari itu kau." Tak kusadari aku
menyunggingkan bibirku saat kedua mata kita bertemu. "Apa kau seorang
penulis?"Tanyaku jahil. "Tidak memangnya kenapa?" Jawabnya tak
mengerti dengan arah pembicaraanku. "Pantas saja banyak yang
menyukaimu, kau pandai menyenangkan hati orang lain." Pujiku kemudian.
"Sungguh? Menurut mereka aku menyebalkan. Eh tapi, apa orang lain itu
termasuk kau?" Lagi lagi dia menatapku, semoga dia tak menyadari
pipiku yang merah memudar saat dia mengatakan itu. "Mengapa kau ada
disini?" "Mentari yang menuntunku kesini." "Kau bergurau." Tangkisku
seolah tak percaya. "Aku serius. Kau sendiri sedang apa disini?"
"Besok aku ulangan kimia, jadi aku sedang mempelajarinya." "Aku bisa
membantumu." "Sungguh?" Tak percaya dengan apa yang dia katakan.
"Tentu saja" jawabnya meyakinkanku.
Kami kembali larut dalam dunia kami.
****

"Bagaimana ulanganmu?" Selalu saja dengan awal seperti ini.
Kedatangannya selalu membuyarkan konsentrasiku. "Lancar, terimakasih
sudah mengajariku." Aku tersenyum lebar kearahnya. "Aku tidak
mengajarimu, aku hanya membantumu." "Apa bedanya? Rasanya kata itu
sama saja." Ledekku spontan. "Aku punya lollypop, apa kau mau?"
Sodornya sebuah lollypop berwarna pink kepadaku. "Boleh." Dengan sigap
aku menerimanya, lagi lagi senyum yang menyipitkan mataku. "Mengapa
kau tak pernah terlihat berbaur dengan temanmu yang lain?" Gio, jika
yang baru saja kauberi adalah makanan mungkin aku akan tersedak
mendengar pertanyaanmu, untung ini hanya sebuah lollypop. Kulepaskan
cepat lollypop yang sejak tadi kukulum. Mengapa dengan pertanyaan itu
kau melakukan pendekatan denganku, mengapa tidak kau tanyakan 'apa
makanan favoritku?' Mungkin itu lebih baik. Aku terdiam beberapa saat
sambil menundukkan kepalaku tanda aku berharap dia melupakan
pertanyaannya. Gio, kau tahu? Ini adalah kali pertama aku duduk dengan
seorang pria disebelahku dengan jarak yang begitu dekat. Jangankan
dengan pria, dengan sesama jenispun jarang sekali kecuali duduk
dibangku kelas atau sekedar mengerjakan tugas kelompok.
"Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" Dia mengikuti menundukan
kepala sambil terus mencari sudut mataku. " Ya! maksudku tidak" semoga
saja dia tak menyadari bahwa aku begitu gugup. "Kau ingin menceritakan
sesuatu padaku?" "Tidak! Maksudku mungkin ,Ya!" Mentari aku sungguh
ingin dia hilang ingatan. "Aku tidak akan memaksamu jika kau tidak
berniat untuk bercerita." Tukasnya kemudian seolah tahu aku yang
terdiam kaku bingung dengan jawaban yang harus aku persiapkan. "Gio,
kau tahu aku adalah anak pemilik yayasan ini." Ucapku kemudian memulai
berbicara namun masih dengan nada terbata-bata. "Maksudmu, kau tak
pantas bergaul dengan orang yang tak sederajat denganmu?" Aku sudah
menduga dengan jawaban yang akan Gio lontarkan. "Sebenarnya tidak
seperti itu, sungguh aku tak pernah memiliki pemikiran untuk
membedakan status ini." Dengan cepat aku menjawab pertanyaan terkutuk
itu "Sudah kukatakan bahwa aku manusia biasa, aku sama seperti kalian.
Tak ada yang berbeda diantara kita, tapi entah mengapa mereka seakan
menjauhiku semenjak mereka mengetahui siapa aku. Aku benci ini. Aku
rindu saat ada teman yang selalu ada disampingku, sapaan mereka saat
aku hadir disekolah, mengerjakan tugas bersama."Tuturku panjang lebar.
Aku tertunduk kembali.
"Mungkin mereka segan padamu." "Mengapa harus segan? Aku bukan kepala
sekolah, aku juga tidak menggigit." Jawabku sekenanya, seperti
menghindari kesalahanku. "Mungkin bagi mereka status sosial itu yang
menentukan siapa mereka." "Aku benci kata-kata itu, mengapa harus ada
status sosial padahal kita sama." Dia menghela nafas panjang, seolah
sedang mencari jawaban untukku. "Mengapa kau tidak mencoba untuk
mendekati mereka lebih dulu." Tantangnya kemudian. "Aku?" "Ya, kau.
Jika kau mendekati mereka, aku yakin mereka tidak akan menjauhimu.
Mereka seperti ini mungkin karena mereka tidak tahu siapa kau." Aku
kembali tertunduk. "Kau benar Gio. Namun, aku tak memiliki cukup
keberanian untuk melakukan hal itu."
Suasana kembali senyap. Sama seperti ketika ada halilitar lalu kembali damai.
****
Mentari, mengapa tadi Gio menanyakan hal itu? Apa dia juga akan
menjauhiku? Sama seperti yang lain.
Mentari, rasanya aku ingin menjerit saat ini juga. Aku lelah.
Aku tenggakkan kepalaku kelangit, duduk ditaman sekolah dengan
menggendong ranselku dan mulai mencoba nyaman dengan posisiku.
Terlihat sinar matahari mulai meredup, akan pergi menuju ke barat.
Aku masih disini mentari. Sendiri.
Akhirnya aku mengalah. Aku memutuskan untuk pulang. Sudah berjam-jam
aku membuat Pak Asep pontang-panting mencariku keseluruh lingkungan
sekolah.
*****
Kubantingkan tubuhku pada kasur empuk berwarna hijau yang memiliki
corak bunga pada setiap sudutnya.

Masih terbayang jelas raut wajah Gio saat menanyakan tentangku ditaman
tadi, sama persis seperti seorang FBI sedang mengintrogasi pelaku
perampokan yang memiliki komplotan besar.
Ya Tuhan, mengapa rasa nyaman itu cepat sekali berlalu. Baru saja aku
merasakan damai yang menghangatkan pagiku walau tanpa mentari. Kini
semua terasa beku kembali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar