Rabu, 01 Januari 2014

Jika Memang Harus Begini


Ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?, tidak? Baiklah, lupakan
saja. Aku memang tak lagi berhak mengetahui semua tentangmu, tentang
perasaan, begitupula dengan kehidupanmu.
Bukan waktu yang bersalah. Percayalah! Ini semua hanya karena kita
yang terlalu naif untuk mengakui kesalahan kita.
Kau tak menyerah? Kau benar. Kau selalu mengatakan bahwa kau bertahan
untukku, namun kau selalu mengaku bahwa aku yang selalu menghindar.
Jadi siapa yang harus aku salahkan? Kau? Aku? Waktu? Atau mungkin
perasaan ini? Bagaimana Tuhan menciptakan rasa ini jika dia harus
menjadi tersangka dalam hubungan kita?

Kau mengatakan bahwa kau merasa hidup saat bersamaku. Apa saat ini kau
sudah mati?
Kau juga mengatakan bahwa aku membuatmu berani menghadapi hidup. Lalu
bagaimana dengan duniamu saat ini tanpaku?
Apa kalimat itu hanya salah satu cara untukmu saat merajuk manja
padaku. Apa itu semua dusta? Jika benar berarti selama ini kita hanya
bersandiwara dalam permainan yang kau mulai dan kau akhiri sendiri
tanpa pernah mengajakku berkompromi.

Sebenarnya aku tak sanggup mengatakan ini, terlebih aku harus
menuliskannya dalam lembaran lembaran kertas yang nantinya akan
menjadi abu dan, hilang.
Saat bersamamupun aku tak banyak bicara mengenai hatiku, aku lebih
memilih diam saat itu.
Semenjak kepergianmu bulan lalu, aku tak mampu beristirahat tenang.
Lingkaran hitam sudah semakin tampak jelas membuat coretan disekitar
kantung mataku. Aku lelah dengan ini semua. Aku lelah memikirkanmu. Padahal aku tahu jelas keadaanmu saat ini. Kau telah bersama yang lain, 2hari setelah kau memutuskan hubungan kita.
Apa ini juga salahku? Mungkin, kau benar. Aku yang tak becus menjagamu. Menjaga orang yang aku cinta, sampai akhirnya kau pergi dan meninggalkanku.
Terkadang aku juga mengatakan. ‘Aku turut bahagia jika kau juga bahagia’. Ya. Itu memang salah. Nyatanya aku sakit saat kau bahagia. Maksud sesungguhnya adalah, ‘Aku bahagia jika kau bahagia bersamaku’. Tidak munafik. Akupun masih manusia biasa. Aku masih menangis jika terluka.
Memang sulit. Namun hidupku bukan berhenti disini, ada jutaan orang yang menungguku. Mungkin. Namun aku percaya. Jika kau mampu bahagia tanpaku, akupun bisa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar